Puasa sudah beberapa bulan berlalu. namun, masih ada kenangan yang tersisa di bulan penuh Rahmat, magfirah, dan ampunan ini.
Pada bulan Ramadhan, seluruh umat muslim disunahkan untuk melakukan sholat tarawih. Saya dan keluarga, selaku umat muslim juga melakukan shalat tarawih. Tempat yang sering kami tuju untuk melaksanakan shalat tarawih ada 2, yaitu mesjid Hajjah Nuriah dan mesjid Istiqomah. Selama menjalankan ibadah salat tarawih ini ada sebuah pengalaman yang menyentakkan kesadaran saya. Persitiwa ini bermula dari datangnya seorang ibu yang saya pandang biasa-biasa saja duduk di samping saya. ia gelar sajadahnya yang berwarna kecoklatan di samping sajadah saya. di atas sajadah tersebut tergeletak sebuah mukena yang biasa-biasa juga. saya katakan biasa-biasa saja karena mukena tersebut tidak dihiasi bordiran yang menandakan mukena itu mahal. mukena ibu tersebut terbuat dari kain tisu berwarna putih polos. Ibu ini sudah beberapa hari saya amati. beliau termasuk orang yang saya anggap aneh. mengapa? karena setiap kali beliau mengisi kotak amal yang diedarkan pengelola mesjid pada saat setelah shalat isya selalu ditutupi beliau dengan mukena sehingga apa dan berapa yang beliau masukkan tersebut tidak ada yang tahu. Hal ini berbeda dengan seorang ibu yang juga tidak luput dari pengamatan saya. Ibu itu terlihat cantik apalagi dengan memakai mukena yang terlihat mahal. kulihat sepintas mukena ibu itu terbuat dari sutra dan dihiasi dengan bordiran yang sangat indah. Selain itu, di jari-jari tangannya yang begitu mulus berhiaskan cincin yang jika terkena sinar lampu akan memantulkan sinar. Pada pergelangan tangannya penuh dengan gelang-gelang emas sehingga apabila beliau menggerakkan tangannya akan terdengar ramai. Ibu ini apabila memasukan uang ke dalam kotak amal jumlahnya tidak lebih dari dua ribu bahkan kadang-kadang beliau memasukkan uang receh ke dalam kotak amal.
melihat kedua peristiwa tersebut aku berpikir mungkin ibu yang sederhana tersebut malu diketahui orang karena uang yang dia masukan itu sedikit atau jangan-jangan hanya pura-pura memasukkan agar terlihat ikut menyumbang. pikiran ini sempat terlintas dibenakku selama beberapa hari. Namun, Allah menengur pikiranku yang tidak pantas ini. pada hari itu, yaitu saat ibu yang sederhana tersebut duduk di sampingku aku berusaha melirik perilaku beliau, khususnya pada saat beliau mendapat giliran memasukkan uang di kotak amal. Namun, seperti biasanya pula beliau selalu menutupinya dengan mukena. Tiba-tiba, entah dari mana angin datang cukup keras dan ini saya rasakan. Mukena ibu itu tiba-tiba tersingkap, Subhanallah…… ternyata dugaanku selama ini keliru. saat mukena beliau tersingkap kulihat di tangan beliau terlipat sebuah kertas yang aku kenal betul warna dan jumlahnya. Uang itu berjumlah Rp 50.000,00. pada saat itu tanpa terasa air mataku menetes, hati dan perasaanku teramat pedih. ternyata selama ini aku salah dalam menilai orang. pelajaran yang dapat aku terima dari peristiwa ini adalah kita tidak dapat men-just seseorang berdasarkan penampilan luarnya saja. Selain itu, tangan kanan memberi tangan kiri tidaklah mesti tahu dan hidup itu tidak perlu sombong karena di atas langit masih ada langit.


